Minggu, 01 Juli 2012

MAKALAH FISKES "Pengertian EEG (ELEKTROENSEFALOGRAM)"

KATA PENGANTAR
Segala puji dan rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena atas berkat dan rahmat-Nya serta hidayah-Nya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah yang berjudul EEG (ELEKTROENSEFALOGRAM).
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Fisika Kesehatan. Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang penulis miliki. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan penyusunan makalah selanjutnya.
Akhir kata semoga kebaikan yang telah diberikan dapat menjadi amal soleh dan ibadah bagi kita semua dan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Amin.




Serang, 10 April 2012


Penulis


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang…………...………………………...………………………1
1.2 Tujuan……………...………………………………………………………......2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian EEG (ELEKTROENSEFALOGRAM)…………………………
2.2 DukunganBidan dalam Pemberian ASI………………...……..………………………….5
2.3 Proses Laktasi…………...…………………………………………………………………9
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan………...……………………………………………………………………..31
3.2 Saran…………………...…………………………………………………………………31
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fisiologi/Patofisiologi Aktivitas listrik merupakan salah satu karakteristik dari semua sel hidup, termasuk sel-sel saraf. Walaupun demikian, tidak keseluruhan sel saraf yang berjumlah 2,6 x 109 itu dianggap menyebabkan gelombang-gelombang listrik di permukaan sebagaimana terekam dengan EEG. Jadi yang dapat mengakibatkan gelombang-gelombang EEG adalah sel-sel saraf di korteks, walaupun diketahui juga bahwa struktur-struktur subkortikal, seperti talamus dan formatio retikularis mempunyai pengaruh yang kuat terhadap gelombang-gelombang kortikal itu. Dari ketiga jenis bentuk sel-sel kortikal (spindle, stellatum dan piramidal), sel-sel piramidallah yang dianggap merupakan sumber potensial listrik dari gelombang-gelombang permukaan. Dari berbagai penyelidikan disimpulkan bahwa terdapat bukti kuat yang menyarankan bahwa gelombang-gelombang permukaan itu merupakan penjumlahan (summation) daripada potensial listrik pascasinaptik, baik yang bersifat inhibisi atau eksitasi, yang berasal dari soma dan dendrit-dendrit besar sel piramidal. Potensial listrik pascasinaptik itu timbul akibat aktifitas neurotransmiter yang dilepaskan oleh ujung presinaptik, yang melepaskannya setelah menerima tanda-tanda listrik dari hubungan-hubungannya.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini untuk mengetahui metabolisme otak atau mengamati bagian-bagian otak



BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian EEG (ELEKTROENSEFALOGRAM)
Electroencephalogram (EEG) adalah suatu test untuk mendeteksi kelainan aktivitas elektrik otak (Campellone, 2006).
Sedangkan menurut dr. Darmo Sugondo membedakan antara Electroencephalogram dan Electroencephalografi.
Electroencephalografi adalah prosedur pencatatan aktifitas listrik otak dengan alat pencatatan yang peka sedangkan grafik yang dihasilkannya disebut Electroencephalogram. Jadi, Aktivitas otak berupa gelombang listrik, yang dapat direkam melalui kulit kepala disebut Elektro-Ensefalografi (EEG).
Amplitudo dan frekuensi EEG bervariasi, tergantung pada tempat perekaman dan aktivitas otak saat perekaman. Saat subyek santai, mata tertutup, gambaran EEG nya menunjukkan aktivitas sedang dengan gelombang sinkron 8-14 siklus/detik, disebut gelombang alfa. Gelombang alfa dapat direkam dengan baik pada area visual di daerah oksipital.
Gelombang alfa yang sinkron dan teratur akan hilang, kalau subyek membuka matanya yang tertutup. Gelombang yang terjadi adalah gelombang beta (> 14 siklus/detik). Gelombang beta direkam dengan baik di regio frontal, merupakan tanda bahwa orang terjaga, waspada dan terjadi aktivitas mental. Meski gelombang EEG berasal dari kortek, modulasinya dipengaruhi oleh formasio retikularis di subkortek. Formasio retikularis terletak di substansi abu otak dari daerah medulla sampai midbrain dan talamus. Neuron formasio retikularis menunjukkan hubungan yang menyebar. Perangsangan formasio retikularis midbrain membangkitkan gelombang beta, individu seperti dalam keadaan bangun dan terjaga. Lesi pada formasio retikularis midbrain mengakibatkan orang dalam stadium koma, dengan gambaran EEG gelombang delta. Jadi formasio retikularis midbrain merangsang ARAS (Ascending Reticular Activating System), suatu proyeksi serabut difus yang menuju bagian area di forebrain. Nuklei reticular thalamus juga masuk dalam ARAS, yang juga mengirimkan serabut difus kesemua area di kortek serebri.ARAS mempunyai proyeksi non spesifik dengan depolarisasi global di kortek, sebagai kebalikan dari proyeksi sensasi spesifik dari thalamus yang mempunyai efek eksitasi kortek secara khusus untuk tempat tertentu. Eksitasi ARAS umum memfasilitasi respon kortikal spesifik ke sinyal sensori spesifik dari thalamus. Dalam keadaan normal, sewaktu perjalanan ke kortek, sinyal sensorik dari serabut sensori aferen menstimulasi ARAS melalui cabang-cabang kolateral akson. Jika sistem aferen terangsang seluruhnya (suara keras, mandi air dingin), proyeksi ARAS memicu aktivasi kortikal umum dan terjaga.
EEG (Electroencephalogram) dilakukan untuk (Jan Nissl, 2006)
• Mendiagnosa dan mengklasifikasikan Epilepsi.
• Mendiagnosa dan lokalisasi tumor otak, Infeksi otak, perdarahan otak, Parkinson.
• Mendiagnosa Lesi desak ruang lainMendiagnosa Cedera kepala.
• Periode keadaan pingsan atau dementia.
• Narcolepsy.
• Memonitor aktivitas otak saat seseorang sedang menerima anesthesia umum selama perawatan.
• Mengetahui kelainan metabolik dan elektrolit B.
Fisiologi/Patofisiologi Aktivitas listrik merupakan salah satu karakteristik dari semua sel hidup, termasuk sel-sel saraf. Walaupun demikian, tidak keseluruhan sel saraf yang berjumlah 2,6 x 109 itu dianggap menyebabkan gelombang-gelombang listrik di permukaan sebagaimana terekam dengan EEG. Jadi yang dapat mengakibatkan gelombang-gelombang EEG adalah sel-sel saraf di korteks, walaupun diketahui juga bahwa struktur-struktur subkortikal, seperti talamus dan formatio retikularis mempunyai pengaruh yang kuat terhadap gelombang-gelombang kortikal itu. Dari ketiga jenis bentuk sel-sel kortikal (spindle, stellatum dan piramidal), sel-sel piramidallah yang dianggap merupakan sumber potensial listrik dari gelombang-gelombang permukaan. Dari berbagai penyelidikan disimpulkan bahwa terdapat bukti kuat yang menyarankan bahwa gelombang-gelombang permukaan itu merupakan penjumlahan (summation) daripada potensial listrik pascasinaptik, baik yang bersifat inhibisi atau eksitasi, yang berasal dari soma dan dendrit-dendrit besar sel piramidal. Potensial listrik pascasinaptik itu timbul akibat aktifitas neurotransmiter yang dilepaskan oleh ujung presinaptik, yang melepaskannya setelah menerima tanda-tanda listrik dari hubungan-hubungannya.
Acetilkholin dianggap sebagai transmiter eksitasi yang penting, dan GABA sebagai transmiter inhibisi yang terpenting di otak.Ujung-ujung presinaptik menerima lepas muatan listrik dari sel-sel di thalamus. Menurut penyelidikan bahwa inti-inti nonspesifik di talamus merupakan the probable pacemaker dari pada potensial listrik sel-sel pyramidal. Lepas muatan yang timbul pada soma dan dendrit-dendrit besar itu kemudian melalui cairan dan jaringan tubuh sampai pada elektroda-elektroda EEG.
Dengan demikian jelaslah bahwa rekaman yang dihasilkan oleh electrode kulit kepala merupakan contoh dari pada aktivitas dekat permukaan, yang tentunya telah banyak mengalami pelemahan, penyebaran, dan penyimpangan dalam perjalanannya yang melalui cairan jaringan, jaringan otak, cairan serebrospinal, tulang tengkorak dan kulit kepala itu.
Gambaran EEG Normal Gb. EEG dari atas kebawah : alfa, beta, teta, delta (sumber : Louis, 2006).
Salah satu penemuan Hans Berger adalah bahwa kebanyakan EEG orang dewasa normal mempunyai irama dominant dengan frekuensi 10 siklus per detik, yang di sebutnya sebagai irama alfa.
Pada umumnya kini yang dimaksud dengan irama alfa adalah irama dengan frekuensi antara 8-13 spd, yang paling jelas terlihat di daerah parieto-oksipital, dengan voltase 10-150 mikrovolt, berbentuk sinusoid, relative sinkron dan simetris antara kedua hemisfer. Suatu asimetri ringan dalam voltase adalah normal, mengingat adanya dominasi hemisfer. Pada umumnya suatu perbedaan voltase 2 : 3 adalah dalam batas-batas normal, asalkan voltase yang lebih tinggi terlihat pada hemisfer non dominant.
Yang lebih penting maknanya adalah bila terdapat perbedaan frekwensi antara kedua hemisfer. Suatu perbedaan frekuensi yang konsisten dari 1 spd atau lebih antara kedua hemisfer mungkin sekali diakibatkan suatu proses patologis di sisi dengan frekuensi yang lebih rendah.Irama alfa terlihat pada rekaman individu dalam keadaan sadar dan istirahat serta mata tertutup. Pada keadaan mata terbuka irama alfa akan menghilang, irama yang terlihat adalah irama lamda yang paling jelas terlihat bila individu secara aktif memusatkan pandangannya pada suatu yang menarik perhatiannya. Ditinjau dari irama alfanya dapat dibedakan tiga golongan manusia, sekelompok kecil yang memperlihatkan sedikit sekali atau tidak mempunyai irama alfa, sekelompok kecil lagi yang tetap memperlihatkan irama alfa walaupun kedua mata dibuka, dan diantara kedua ekstrem ini terletak sebagian besar manusia yang menunjukkan penghilangan irama alfa ketika membuka mata.
Berturut-berturut ketiga kelompok ini disebut sebagai kelompok alfa M (minimal atau minus), alfa P (persisten), alfa R (responsive).Suatu irama yang lebih cepat dari irama alfa ialah irama beta yang mempunyai frekuensi di atas 14 spd, dapat ditemukan pada hamper semua orang dewasa normal. Biasanya amplitudonya daopat mencapai 25 mikrovolt, tetapi pada keadaan tertentu bisa lebih tinggi. Pada keadaan normal terlihat terutama di daerah frontal atau presentral.Irama yang lebih lambat dari irama alfa adalah tidak jarang pula ditemukan pada orang dewasa normal. Irama teta mempunyai frekuensi antara 4-7 spd. Suatu irama yang lebih pelan dari teta disebut irama delta adalah selalu abnormal bila didapatkan pada rekaman bangun, tetapi merupakan komponen yang normal pada rekaman tidur. Frekuensi irama delta ialah ½-3 spd.Berbagai keadaan dapat mempengaruhi gambaran EEG.
Perhatian cenderung untuk menghapuskan irama alfa, merendahkan voltase secara umum dan mempercepat frekuensi. Termasuk perhatian ini adalah usaha introspeksi dan kerja mental (misalnya berhitung). Demikian pula setiap stimulus visual, auditorik dan olfaktorik akan merendahkan amplitudo dan menimbulkan ketidak teraturan irama alfa. Penurunan kadar O2 dan atau CO2 darah cenderung menimbulkan perlambatan, sebaliknya peninggian kadar CO2 menimbulkan irama yang cepat. Faktor usia juga mempunyai pengaruh penting pula dalam EEG. Rekaman dewasa sebagaimana digambarkan di atas pada umumnya dicapai pada usia 20-40 tahun. Rekaman neonatus berusia di bawah satu bulan memperlihatkan amplitude yang rendah dengan irama delta atau teta. Antara usia 1-12 bulan terlihat peninggian voltase, walaupun irama masih tetap delta atau teta. Antara 1-5 tahun terlihat amplitudo yang tinggi, irama teta yang meningkat dan mulai terlihat irama alfa, sedangkan irama delta mengurang. Antara 6-10 tahun amplitude menjadi sedang, irama alfa menjadi lebih banyak, teta berkurang, delta berkurang sampai hilang. Antara 11-20 tahun voltase terlihat sedang sampai tinggi, dominsi alfa mulai jelas, teta minimal, delta kadang-kadang masih terlihat di daerah belakang. Di atas 40 tahun mulai lagi terlihat gelombang lambat 4-7 spd di daerah temporal dan di atas 60 tahun rekaman kembali melambat seperti rekaman anak-anak.
Perubahan tahap-tahap tidur berpengaruh besar pula terhadap rekaman EEG. Dalam keadaan mengantuk terlihat pengurangan voltase dan timbul sedikit perlambatan. Pada keadaan tidur sangat ringan dapat terlihat adanya gelombang-gelombang mirip paku bervoltase tinggi, bifasik dengan frekuensi 3-8 spd, simetris dan terjelas di daerah parietal (parietal humps). Gambaran ini paling jelas pada usia 3-9 tahun dan terus terlihat sampai usia 40 tahun. Pada keadaan tidur ringan terdapat (sleep spndle) terdapat gelombang tajam berfrekuensi 12-14 spd yang sifatnya simetris. Pada keadaan tidur sedang sampai dalam rekaman didominir oleh gelombnag-gelombang lambat tak teratur dengan frekuensi ½ - 3 spd.Gambaran EEG AbnormalEEG sampai saat ini masih digolong-golongkan atas dasar hubungan frekuensi-voltase, dengan frekuensi sebagai parameter utama. Berbagai penyelidikan mengungkapkan bahwa tidak semua individu normal memperlihatkan EEG yang normal dan sebaliknya tidak semua abnormalitas dalam EEG berarti ada abnormalitas pada individu yang bersangkutan. EEG abnormal disebut spesifik bila gelombang yang timbul mempunyai gambaran yang khas dan berkorelasi tinggi dengan kelainan klinik tertentu, disebut nonspesifik (aspesifik) bila gelombangnya tidak khas dan dapat ditimbulkan oleh banyak kelainan-kelainan neurologik atau sistemik.
Di bawah ini akan dijelaskan beberapa hasil pemeriksaan EEG yang penting dari kelainan-kelainan neurologik, yaitu :
1. EEG pada penyakit konvulsif EEG paling banyak digunakan untuk mendiagnosa dan mengklasifikasikan epilepsy.
Paroksismal merupakan pemunculan yang episodic dan mendadak suatu gelombang atau kelompok gelombang yang secara kwantitatif dan kwalitatif berbeda dengan gambaran irama dasarnya. Tipe aktivitas paroksismal yang timbul ketika serangan, sampai derajat tertentu mempunyai korelasi dengan tipe klinis. Petit mal dalam serangan ditandai oleh aktivitas spike and wave dengan frekuensi 3 spd, menyeluruh disemua saluran, bersifat sinkron dan simetris dengan voltase yang tinggi yang dapat mencapai 1000 mikrovolt. Grand mal dalam serangan sangat sulit direkam karena terganggu oleh gerakan-gerakan motorik individu; gambaran kejangnya adalah berupa aktivitas cepat yang menyeluruh bervoltase tinggi berbentuk polyspike dengan frekuensi 8-12 spd, diselingi gelombang-gelombang lambat dari 1,5-3 spd.
Epilepsi psikomotor ditandai oleh aktivitas spike didaerah temporal depan.Kebanyakan rekaman penderita epilepsy merupakan rekaman di luar serangan (interictal), yang tidak jarang tidak memperlihatkan abnormalitas, walaupun klinis jelas merupakan suatu epilepsy. Karenanya usaha-usaha provokatif dipergunakan untuk merangsang timbulnya aktivitas EEG abnormal yang tak terlihat secara spontan. Keadaan tidur (alamiah maupun akibat induksi obat) mengaktifkan paroksismalitas yang umum maupun fokal. Dalam keadaan tidak tidur hanya kira-kira sepertiga individu dengan diagnosa klinik epilepsy memperlihatkan paroksismalitas spesifik, 15 % memperlihatkan EEG yang normal dan sisanya memperlihatkan perlambatan atau percepatan yang spesifik. Dalam keadaan tidur gambaran serangan dua kali lebih sering terlihat, terutama untuk epilepsy psikomotor. Hiperventilasi paling efektif dalam mengaktifkan gelombang-gelombang serangan petit mal; kadang-kadang hiperventilasi dapat mengaktifkan abnormalitas yang bersifat fokal atau menimbulkan gambaran kejang yang partial. Stimulasi fotik dapat menimbulkan paroksismalitas menyeluruh berupa kompleks spike and wave yang disebut “photoparoxysmal response”. Korelasi gambaran rekaman diluar serangan adalah tertinggi untuk petit-mal (90%), kemudian tipe psikomotor dan pada tipe grand-mal korelasinya adlah tidak begitu tinggi. Jadi jelaslah tidak adanya gambaran epileptiform dalam rekaman tunggal tidaklah menyingkirkan kemungkinan penyakit konvulsif.
2. EEG pada tumor intracranial Pentingnya pemeriksaan EEG pada tumor otak ditegaskan oleh Walter, yang menyebutkan irama lambat berfrekuensi kurang dari 4 spd (irama delta).
Irama delta ini umumnya terlihat fokal, karenanya dapat dipakai untuk menetukan lokalisasi tumor. Jaringan otak sendiri tidak memberikan lepas muatan listrik, gelombang-gelombang lambat yang dicatat oleh EEG berasal dari neuron-neuron disekitar tumor atau ditempat lain yang fungsinya terganggu secara langsung atau tidak langsung. Tomor otak tidak memberikan gambaran yang spesifik, kiranya rekaman serial adalah lebih bernilai dari pada rekaman tunggal.Tomor infra tentorial memberikan gambaran EEG yang berbeda dengan tomor supra tentorial. Gambaran karakteristik tumor infra tentorial adalah berupa perlambatan sinusoidal yang ritmik berfrekuensi 2-3 spd atau 4-7 spd, dapat bersifat terus menerus ataupun paroksismal.Berbeda dengan tomor infra tentorial, tumor supra tentorial pada umumnya memberikan gambaran yang bersifat fokal teta maupun delta, sehingga penentuan lokalisasi lebih dimungkinkan. Kadang-kadang dapat pula ditemui gambar spike atau gelombang tajam yang fokal.Suatu ketentuan yang banyak dianut tentang tumor otak mengatakan bahwa suatu EEG yang normal menyingkirkan sebesar 97% tumor kortikal dan sebesar 90% tumor otak pada umumnya.
3. EEG pada lesi desak ruang lain Secara EEG, abses otak memberikan gambaran yang sama dengan tumor : 90-95% memperlihatkan aktivitas teta atau delta yang menyeluruh dengan fokus frekuensi terendah diatas daerah abses.
Fokus perlambatan ini sering kali sangat rendah sampai 0,3 spd dan bervoltase sangat tinggi sampai 500 mikrovolt.Subdural hematom yang kronik 90% memperlihatkan EEG yang abnormal, sehingga penemuan EEG yang normal menyingkirkan kemungkinan hematom secara cukup kuat.
4. EEG pada rudapaksa kepala EEG berkorelasi dengan hebat dan luasnya rudapaksa kepala. Commotio cerebri EEG umunya normal.
Memar otak akut meperlihatkan penurunan voltase yang diffuse, diikuti pembentukan aktivitas delta bervoltase rendah yang menyeluruh. Pada area kontusi aktivitas cepat ditekan dan seringkali ditemui asimetri dalam amplitude irama alfa. Setelah fase akut aktivitas delta relative akan terlokalisir di daerah kontusi. Setelah kira-kira 2 minggu terlihat peninggian frekuensi dan penurunan voltase dari fokus delta tersebut. Dapat dilihat pula fokus spike di daerah kontusi. Pada masa penyembuhan hiperventilasi akan menimbulkan perlambatan umum sampai 30 hari setelah trauma.
5. EEG pada infeksi otak Meningitis akut memberikan abnormalitas perlambatan yang difus berupa irama delta, baik pada bentuk purulent maupun serosa. Biasanya kelainan EEG berkaitan erat dengan tingkat kesadaran individu. Suatu perlambatan fokal yang timbul pada rekaman ulangan individu dengan meningitis mungkin sekali menandakan pembentukan abses.Ensefalitis memberikan perlamabatn umum, biasanya dengan frekuensi yang lebih rendah dari meningitis. Dapat pula terlihat fokus perlambatan dan gelombang tajam.
6. EEG pada kelainan metabolik dan elektrolit Hipoglikemia (<50 Electroencephalogram (EEG). 2.2 Kegunaan EEG : • Pasien yang mengalami kejang atau yang diduga mengalami kejang. • Mengevaluasi efek serebral dari berbagai penyakit sistemik (misalnya keadaan ensefalopati metabolik karena diabetes, gagal ginjal). • Melakukan studi untuk mengetahui gangguan tidur (sleep disorder) atau narkolepsi. • Membantu menegakkan diagnosa koma. • Melokalisir perubahan potensial listrik otak yang disebabkan trauma, tumor, gangguan pembuluh darah (vaskular) dan penyakit degeneratif. • Membantu mencari berbagai gangguan serebral yang dapat menyebabkan nyeri kepala, gangguan perilaku dan kemunduran intelektual. 2.3 Prinsip Kerja Semacam topi akan dipakaikan di kepala dan didalam topi tersebut terdapat konduktor yang merupakan sensor yang terhubung dengan alat pencatat aktivitas gelombang otak. Sensor tersebut memiliki jumlah yang bermacam-macam tergantung kebutuhan semakin banyak sensor yang dipakai maka kepekaan pencatatan gelombang otak akan semakin naik. Proses ini biasanya berlangsung antara 15 menit. Kemudian untuk pengukuran dan pencatatan aktivitas gelombang otak normalnya berlangsung antar 10-30 menit. Setiap klien harus mengikuti instruksi dari terapis jika terapis menyuruh membuka atau menutup mata. Terapis juga akan memberikan instruksi kepada klien untuk melakukan aktivitas mental seperti membaca atau mengerjakan soal matematika yang sederhana. Hal ini menjadi sangat penting selama proses pengukuran. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Electroencephalografi adalah prosedur pencatatan aktifitas listrik otak dengan alat pencatatan yang peka sedangkan grafik yang dihasilkannya disebut Electroencephalogram. Jadi, Aktivitas otak berupa gelombang listrik, yang dapat direkam melalui kulit kepala disebut Elektro-Ensefalografi (EEG). Amplitudo dan frekuensi EEG bervariasi, tergantung pada tempat perekaman dan aktivitas otak saat perekaman. Saat subyek santai, mata tertutup, gambaran EEG nya menunjukkan aktivitas sedang dengan gelombang sinkron 8-14 siklus/detik, disebut gelombang alfa. Gelombang alfa dapat direkam dengan baik pada area visual di daerah oksipital. Gelombang alfa yang sinkron dan teratur akan hilang, kalau subyek membuka matanya yang tertutup. Gelombang yang terjadi adalah gelombang beta (> 14 siklus/detik). Gelombang beta direkam dengan baik di regio frontal, merupakan tanda bahwa orang terjaga, waspada dan terjadi aktivitas mental. Meski gelombang EEG berasal dari kortek, modulasinya dipengaruhi oleh formasio retikularis di subkortek.
Keadaan tidur (alamiah maupun akibat induksi obat) mengaktifkan paroksismalitas yang umum maupun fokal. Dalam keadaan tidak tidur hanya kira-kira sepertiga individu dengan diagnosa klinik epilepsy memperlihatkan paroksismalitas spesifik, 15 % memperlihatkan EEG yang normal dan sisanya memperlihatkan perlambatan atau percepatan yang spesifik.



3.2 Saran
Mahasiswa di harapkan untuk mengetahui lebih jauh tentang metabolisme otak atau mengamati bagian-bagian otak.


DAFTAR PUSTAKA
http://www.webmd.com/hw/epilepsy/aa22249.asp Louis, S (2006). EEG COURSE and GLOSSARY.
http://www.brown.edu/Departments/Clinical_Neurosciences/louis/eegcrs.html St. John's Mercy Health Care (2006).
Tests & Procedures Electroencephalogram (EEG) Diambil pada 17 Pebruari 2006 dari http://www.stjohnsmercy.org/contact/default.as





Tidak ada komentar:

Posting Komentar